UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT, SILAHKAN HUBUNGI KAMI. KAMI SIAP MEMBERIKAN PELAYANAN YANG TERBAIK DEMI KEPUASAN ANDA...

PANEN MELIMPAH DENGAN MODAL SAMPAH


Panen Melimpah dengan Modal Sampah

oleh sugeng hariadi


Ada lelucon yang tidak lucu. Boleh jadi ini hanya sekadar kelakar. Ketika tiba-tiba terjadi sunami di daerah perkotaan yang nyaris menghabisi penduduk kota. Bagaimana dengan orang desa, apakah mereka juga ikut habis. Jawabannya pasti tidak. Karena orang desa masih punya daya dukung untuk menopang hidup seperti punya beras, sayur-mayur, bumbu masak termasuk lauk-pauk. Paling kerugian yang ditimbulkan adalah hal-hal yang ekstensif kehidupan kota seperti tidak ada siaran radio, tv, sinyal Hp. Bila yang terjadi sebaliknya di mana terjadi gunung meletus dan semua orang desa habis, pasti diikuti habisnya orang kota. Karena sumber pangan dikerjakan orang desa dan orang kota tidak bisa menyediakan kebutuhan pangan untuk menopang kebutuhan hidupnya.
Tentu dalam kenyataan tidak ekstrem seperti itu. Lagi-lagi ini hanya guyonan, sekadar kelakar. Tetapi dengan ini hendak menegaskan hubungan ketergantungan desa - kota, dan yang sebenarnya lebih bergantung adalah orang kota terhadap orang desa. Dalam banyak aspek desa memiliki potensi yang membuat orang desa lebih mandiri, terutama dalam kaitan dengan ketersediaan pangan. Tetapi jadi tidak lucu, karena kenyataan lapangan orang desa justru bergantung terhadap kehidupan kota. Ini bukan saja soal gaya hidup, cara berpikir, faktor ekonomi dan banyak aspek yang lain.
Migrasi orang desa ke kota adalah bentuk riil ketergantungan desa terhadap kota (Lebih dahsyat adalah penguasaan lahan orang desa oleh orang berduit dari kota). Boleh jadi ini adalah masalah kependudukan kita hari ini. Kepengapan hidup perkotaan oleh berjibunnya orang desa adalah sebuah masalah. Pabrik, pertokoan, rumah makan,   pekerja bangunan, buruh kasar, kuli angkut, penarik becak, dll adalah ruang-ruang yang diisi orang desa di kota. Tentu tidak keseluruhannya berbekal ketrampilan yang memadai. Termasuk tidak semuanya tertampung dalam ruang kehidupan di kota. Ini yang memicu masalah di perkotaan dengan tingginya tingkat kriminalitas, pelacuran, pengemis, glandangan dan kekumuhan sosial yang lain.
Jadi soal adalah angkatan muda desa juga ikut kranjingan bergerak ke kota. Apa yang salah dengan sistem pendidikan kita sehingga anak-anak lulusan sekolah menengah sudah bergerak ke kota. Mereka tidak mau tinggal di desa, untuk mengambil posisi sosial maupun ruang kerja di desa. Langkanya angkatan muda di desa jadi soal karena desa kehilangan darah mudanya. Sumber daya manusia yang mumpuni susah di dapat. Ke depan ini akan jadi masalah jangka panjang. Kalau ada mereka anak muda yang tinggal, kebanyakan mereka adalah kelompok yang tertolak dan terlempar dari kota. Gaya hidup mereka kekota-kotaan dan tidak mau bersentuhan dengan pekerjaan orang desa. Nyaris mereka adalah sampah di desanya.
Kita tidak hendak mengangkat soal ini lebih dalam. Diskusi terkait masalah ini dengan segala aspeknya sudah banyak di bahas. Namun masih tersisa pertanyaan ada apa dengan desa kita hari ini. Simbol dan perekat hubungan sosial di desa adalah sawah ladang. Kehidupan bertani, beternak dan berkolam ikan jadi tumpuan hidup. Tetapi kenyataan lapangan menjadi petani hari ini tidak sederhana. Ini menyebabkan hanya sedikit dari mereka orang desa, masih bergulat sebagai petani (selebihnya, meraka adalah buruh tani).
Luas kepemilikan lahan per rumah tanga petani sempit, rata-rata di bawah 0,5 ha. Sempitnya lahan tentu tidak produktif bertumpu pada usahatani. Apalagi tanah sudah mulai kritis di mana hasil panen tidak bisa baik. Satuan biaya produksi juga merangkak tinggi sehingga keuntungan panen kecil. Atau dengan kata lain nilai tukar petani rendah. Masalah diperburuk karena keberpihakan pada dunia petani tidak memadai. Besarnya import berbagai produk pertanian membuat harga panen jatuh. Dengan ini nampaknya migrasi dari desa ke kota adalah hal yang tidak terhindarkan. Ketika tanah di desa tidak lagi bisa menjadi tumpuan hidup, menerobos masuk kota dengan berbagai resiko adalah pilihan.
Mau dikatakan bahwa desa sebenarnya penentu primer proses urbanisasi. Jika mau memberi solusi maka harus kembali bagaimana memperkuat ekonomi desa, dengan melihat kesuburan tanah sebagai basisnya. Ruang untuk itu masih terbuka meski sempit, terutama bagaimana mengungkit tanah yang mulai kritis dan besarnya beaya produksi budidaya tani. Tidak bisa disangkal ada kebiasaan buruk petani dalam pola tanam seperti membakar limbah hasil panen. Lebih buruk dari ini adalah ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pestisida. Tidak disadari bahwa perilaku buruk ini bertentangan dengan usaha produktif yang sedang dikerjakan.
Kita mengerti bahwa kekuatan tanah untuk menghasilkan panen bergantung dari kadar humus tanah. Potensi humus ini sangat besar dimiliki petani, yaitu bila sampah dari limbah panen dikembalikan ke sawah. Sapi kencing dan berak (tletong) di tanah lapang, terbukti kemudian bahwa rumput yang mendapat asupan kencing dan tletong tumbuh jauh lebih subur. Penjelasannya karena tletong dan kencing adalah produk metabolisme yang masih mengandung unsur pakan. Oleh pekerjaan jasad renik di tanah (bakteri pengurai) diubah menjadi unsur hara tanah yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh tanaman. Dalam konsep hukum kekelan energi, betapapun tletong adalah sampah, sebenarnya menyimpan sumber energi. Bakteri pengurai membuat tletong keluar potensi energinya ketika berubah menjadi unsur hara tanah. 
Pola ini mestinya menjadi catatan besar bagaimana budidaya tanam dikembangkan. Sisa hasil panen seperti jerami, tebon jagung, rendeng kedelai, pucuk tebu, rendeng kankung dll hendaknya diolah kembali untuk kembali ke tanah. Ketika panen petani kehilangan unsur tanah sesuai jumlah hasil panen plus produk sisa panen. Cara paling murah mengganti kehilangan unsur tanah dari panen adalah mengembalikan semua sampah panen ke tanah dengan bantuan bakteri pengurai (MKABio1). Hendaknya petani rela menyisakan ruang tanah relative kecil di sudut sawahnya untuk mengolah sampah hasil panen. Sementara sisa tanah yang lebih besar diolah untuk komoditas tanam yang lain, sampah panen disudut sawah sedang menjalani proses penguraian (pelapukan). Panen berikut sampah disisihkan disudut yang lain, sampah panen sebelumnya relatif sudah lapuk ditebar pada hamparan sawah sebagai sumber pupuk pada pola tanam berikut. Tentu akan sangat berguna menambah bahan lain terutama dari sampah kandang seperti kencing dan tletong. Untuk dicatat, budidaya ternak sebenarnya adalah cara terpilih untuk mengubah sampah panen berubah menjadi bahan yang lapuk sebagai pupuk, menjual ternak sebagai daging adalah pendapatan tambahan.
Hama tanaman (organisme pengganggu tanaman) adalah masalah lain di luar kebutuhan pupuk. Sering petani dibuat pusing dan siap mengeluarkan kocek berapapun. Bila mau kreatif, bisa membuat sendiri obat pestisida dari bahan-bahan nabati. Setiap tanaman di sekitar sawah dan kebun, mengeluarkan zat-zat biokimia tertentu yang mampu menolak hama. Bahan-bahan ini biasanya terkait bau tidak enak dan rasa yang pahit. Secara khusus  bahan seperti brotowali, kecubung, toba, mbako, buah maja, daun pahitan, tapak liman,  rempah-rempah seperti temu ireng dan kunir, bisa diperhitungkan sebagai sumber bahan pestisida. Bahkan semua tanaman baik daun, akar dan buah dari bahan-bahan yang tidak terserang hama di sawah dan kebun bisa dilirik sebagai sumber bahan pestisida. Secara teknis lebih baik dikombinasi dengan urin (kencing) - bisa dari ternak maupun manusia. Dengan bantuan bakteri pengurai (MKABio1) akan didapat ekstrak dari bahan-bahan pestisida yang dimaksud yang kemudia bisa digunakan untuk menghalau hama tanaman. Ini yang dikenal dengan pestisida nabati (pesnab). 
Belajar dari tletong yang bisa membuat rumput tumbuh subur. Aspek khususnya adalah peranan jasad renik di tanah. Tidak pernah dipikirkan oleh petani, ada kehidupan renik yang kompleks seperti adanya cacing, rayap dll yang membantu pekerjaan sawah khususnya menyediakan unsur hara tanah yang berguna untuk makan bagi tanaman. Sebagaimana halnya pekerjaan metabolisme makanan di perut manusia yang  butuh bakteri komensal, maka dibutuhkan juga  jasad renik untuk melakukan pekerjaan metabolisme di tanah. Kesuburan dan kualitas hasil panen bergantung sepenuhnya pada biodiversitas yang dipicu oleh semaian mikroorganisme di tanah. Atinya jasa renik ditanah adalah sahabat petani. Cara mudah dan murah guna merangsang tumbuh kembang jasad renik adalah memastikan ketersediaan sampah.
Jasad renik akhirnya adalah penentu keberhasilan panen. Yang perlu dicatat ia adalah subyek yang tidak terlihat. Dibutuhkan fasilitas teramat mahal seperti mikroskop elektron jika mau mengerti kehidupan renik. Orang desa yang selamatan di sawah supaya olah tanam di dukung yang “bau rekso”, bisa jadi yang dimaksud adalah kehidupan renik di tanah. Atau karena secara kasad mata tidak terlihat kurang mendapat perhatian.  Ketika petani mendapat kenyataan sawahnya penuh rumput, pilihan mudahnya adalah menyemprot dengan herbisida (pembunuh rumput). Tidak kepikir bahwa rumput bisa tumbuh subur karena ada kompleks jasad renik yang mendukungnya. Begitu rumput mati oleh peranan bahan kimia, tidak terkira akan dikuti oleh matinya jasad renik dengan seluruh masalahnya. Perlakuan sama ketika dengan mudah menyemprot berbagai bahan kimia untuk hama tanamannya, petani tidak sadar telah memusnahkan kompleks kehidupan renik yang mendukung proses budidaya tanamnya.
Faktor-faktor substansial seperti ini, yaitu sampah, kotoran, kencing ternak, pestisida nabati, jasad renik (biota tanah) untuk kebutuhan meningkatkan hasil budidaya tanam sebenarnya ada dekat di lingkungan petani. Semua kebutuhan itu tidak harus didatangkan dari jauh apalagi harus dibeli. Budidaya tanam hendaknya memang harus serentak menjamin tanah tetap sebur sehingga produktifitas panen tetap bisa dijaga. Ini penting karena terkait langsung dengan tingkat kesejahteraan petani.
 Hendak dikata bahwa kunci untuk membuat tanah menjadi subur dengan panen yang meningkat bisa dijangkau. Kesuburan tanah secara langsung meningkatkan hasil panen dan tentu jaminan pada meningkatnya kesejahteraan. Kunci untuk itu sangat sederhana yaitu bila sudi mengolah sampah kembali ke tanah. Artinya panen melimpah dengan modal sampah sangat mungkin dikerjakan. Ini adalah cara yang mudah, murah dengan hasil yang melimpah. Sayangnya petani cenderung memilih cara instan yaitu membakar semua limbah sawahnya. Kehilangan  potensi pupuk diganti dengan mendatangkan berbagai produk kimia yaitu pupuk dan pestisida. Alih-alih mendapatkan panen melimpah, malah terpuruk dan jatuh, kehidupan petani tambah payah