UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT, SILAHKAN HUBUNGI KAMI. KAMI SIAP MEMBERIKAN PELAYANAN YANG TERBAIK DEMI KEPUASAN ANDA...

MKABIO MINUMAN EKSTRAK JAMU


MKA BIO
Minuman Ekstrak Jamu

KUTELAK           : KunirTemu lawak
KUTINCUR         : Kunir putih - Kencur
KUJAMAH          : Kunir putihJahe merah
KURENJEH         : KencurJahe putih
KUTILOS             : Kunir putih – Kudu - Laos
KUNCIRIH           : Kencur – Kunci - Sirih

GENRE BARU TENTANG MINUMAN EKSTRAK JAMU
Bukan minuman biasa. Dibuat dari bahan rempah-rempah yang konon dikenal dengan sebutan jamu. Diolah melalui proses fermentasi untuk mendapat khasiat lebih nyata dari bahan jamu yaitu dalam produk ekstrak jamu. Memperoleh produk ekstrak dengan cara fermentasi, artinya dibuat dengan cara yang sangat alamiah. Boleh jadi ini adalah genre baru dalam tata cara mengolah bahan dengan basis jamu. Rasa pahit yang menjadi karakter dari semua bahan jamu akan hilang. Sebagai produk fermentasi maka jadi agak berasa masam. Tetapi justru rasa masam ini menjadi kekuatan dari teknik pengolahan dengan cara fermentasi. Dengan sedikit penambahan gula atau madu, apalagi disedu dengan air es, akan berasa segar dalam sensasi adem rasa "nyes". Pemeo dan atribut yang kemudian muncul : “jamu pahit, itu dulu”.
Konon ketika teknologi obat belum berkembang seperti sekarang, jamu adalah pilihan ketika orang jatuh sakit. Artinya sejak lama dipahami bahwa rempah-rempah mengandung bahan obat (fitofarmaka), minyak atziri dan terutama karena bisa berguna sebagai antioksidan, hepatoprotektor dan imonomodulator. Ini sangat penting untuk menjaga tubuh tetap sehat dan tidak berlebihan bila kemudian bahan jamu dilirik untuk mengobati orang sakit. Tetapi dalam setting sediaan minuman ringan, tentu tidak dimaksudkan sebagai obat untuk berbagai penyakit. Citarasa jamu tentu sebuah sentuhan rasa yang lain. Sangat khas dan tipikal aroma desa.
Teknik dasar pengolahan dengan fermentasi, menjanjikan sesuatu yang kehandalannya tidak diragukan. Berbeda dari cara-cara pengolahan jamu sebelumnya seperti diparut, ditiris, di jemur, digodok atau dibuat dalam sediaan kristal jamu. Fermentasi adalah treatmen perlakuan dengan basis bateriologis (jasad renik) melalui proses peragian. Tentu yang dimaskud adalah bakteri probiotik (pro kehidupan) yang secara ilmiah aman bagi kesehatan. Ada pengakuan yang luas tentang besarnya peranan jasad renik untuk menopang kehidupan. Alfin Tofler malah menyebut sebuah masa yang akan menjadi genre bagi perkembangan bioteknologi. Hiromi Shinya, MD dalam bukunya The Microbes Factor (2010) dan The Miracle of Enzym (2007), menyebut hal sama tentang pentingnya peran mikroba (mikrobacterium). Bahwa mikroba adalah basis dari teknologi bioremidiasi yang berperan dalam merangsang produksi enzyme dan sangat penting  untuk setting ekosistem yang  ramah lingkungan. Makanan yang diproduk secara organik dan makanan yang terfermentasi disebut makanan yang baik dan direkomendasikan untuk menjamin hidup lebih sehat.
Ini bertentangan dari pemahaman lama bahwa jasad renik selalu dipahami sebagai biang berbagai penyakit. Untuk ini Menurut Shinya, dalam kenyataan selalu tersedia bakteri jahat, bakteri baik (probiotik), dan bakteri netral (oportunis) yang adanya selalu saling berkompetisi. Ekosistem yang baik harus secara kondusif merangsang bakteri baik tumbuh secara lebih dominan. Proporsi bakteri dalam usus misalnya, kira-kira 20 % bakteri bermanfaat, 30 % bakteri berbahaya, dan 50 % sisanya bakteri netral. Kelompok penting yang memegang kendali lingkungan usus adalah bakteri netral, la berlaku seperti dalam pemilu sebagai "swing voter". Itu karena kalau proporsi bakteri berbahaya meningkat akibat makan tak teratur dan kebiasaan buruk lain, bakteri netral bergeser menjadi bakteri berbahaya dan sebagian besar bakteri usus jadi bertindak sebagai bakteri berbahaya, membusukkan makanan yang tak tercerna dan menghasilkan gas beracun. Akibat lingkungan yang buruk itu, lama-lama bagian-bagian usus rusak dan banyak penyakit bermunculan.
Di sisi lain, ketika proporsi bakteri bermanfaat membesar, bakteri netral bekerja sejalan dengan bakteri bermanfaat dan akibatnya usus jadi berisi lebih banyak bakteri bermanfaat dan menjadi lingkungan yang stabil. Seiring waktu, bagian-bagian usus menjadi bersih dan pemilik usus itu jadi lebih mungkin menikmati kehidupan yang panjang dan sehat, secara mental maupun fisik. Satu cara mencegah bakteri netral menjadi berbahaya adalah dengan makan dan minum produk fermentasi.
Hendak dikata bahwa mikroba memang merusak makanan, tetapi bisa juga dimanfaatkan sebagai pengawet, dan orang sudah belajar melakukannya sejak awal sejarah manusia, menggunakan bakteri untuk fermentasi. Makanan dan minuman hasil fermentasi ditemukan di budaya makanan dan minuman di seluruh dunia. Ini menjelaskan tidak perlu ragu bahwa makanan hasil fermentasi sangat bagus untuk kesehatan. Glukosa, protein dan karbohidrat dalam makanan dipecah oleh mikroorganisme selama proses fermentasi, sehinga menciptakan zat-zat yang bermanfaat bagi tubuh.
Usus mendapat banyak manfaat dari makanan - minuman hasil fermentasi yang membantu pembiakan bakteri bermanfaat. Contohnya, ketika Lactobacillus, bakteri bermanfaat yang lazim, menghasilkan asam laktat, mencapai usus, pH dalam usus turun dan suasana usus menjadi asam sehingga bakteri yang tak tahan asam (kebanyakan bakteri patogen) tak bisa berkembang. Banyak bakteri semacam   itu yang berbahaya, mereka memproduksi zat-zat seperti amonia dan hidrogen sulfida, sehingga biasa disebut bakteri berbahaya. Dengan peningkatan aktivitas bakteri bermanfaat, bakteri berbahaya kehilangan kekuatan dan lingkungan dalam usus pun membaik.
Kegiatan mikrooragnisme juga menjadi bagian vital dalam hubungan antara usus dan fungsi kekebalan (imun). Ada banyak sel imun (seperti makrofag, sel limfosit dan neutrofil) yang bekerja dalam usus. Mereka melindungi tubuh dari kuman-kuman yang tertelan kita. Bakteri bermanfaat, seperti Lactobacillus, mengaktifkan sel-sel imun tersebut. Itulah sebabnya mengapa sistem kekebalan terhadap penyakit akan berkurang kalau usus dalam kondisi buruk.
 Dua pertiga sel imun dalam tubuh berkumpul di usus, bagian terpenting saluran pencernaan. Ketika lingkungan  usus terganggu dan berada dalam kondisi buruk, masalahnya akan melebar, tak hanya menyangkut kesehatan usus. Jika tidak dilakukan apapun untuk memperbaiki kesehatan usus, kekuatan kekebalan dan daya hidup akan melemah sehingga membuat rentan terhadap penyakit (bahkan bisa memunculkan proses keganasan / kanker), penyakit terkait gaya hidup, penyakit menular, penyakit alergi dan banyak masalah lain.
“Tanah kita adalah usus kita”, begitu kata Shinya. Di tanah dan di usus, mikroorganisme yang disebut bakteri tanah atau bakteri usus (kuman komensal) berperan penting dalam memelihara kesehatan penghuni atau pemiliknya. Bahan rempah-rempah yang dikenal sebagai jamu adalah populer dan familier bagi kebanyakan orang, Mengolahnya secara fermentasi untuk mendapatkan kultur microorganisme yang di bawa oleh jamu, adalah pilihan yang paling logis, mudah dan murah guna meningkatkan kesehatan “usus” (tanah) kita
Kembali pada tema awal tentang miuman ekstrak jamu. Bahan rempah-rempah yang dimaksud sangat baik difermentasi dengan kombinasi Lactobacillus soporogenes dan Saccharomyses cereviseae. Mikroorganisme ini adalah jenis probiotik yang bukan saja secara ilmiah teruji aman, tetapi juga penting perannya sebagai bakteri komensal dalam perut. Tidak diragukan hasil ekstrak jamu dari proses fermentasi ini bukan minuman ringan biasa. Aspek fitofarmaka,  potensi fermenter dan dekomposer untuk membantu metabolisme makanan yang dikandung dalam minuman jenis ini adalah khasiat dan manfaat sangat menjanjikan. Kutelak, Kutincur, Kujamah, Kurenjeh, Kutilos dan Kuncirih, sebagai produk olahan dengan pendekatan fermetasi, seperti pendapat Hiromi Shinya, sangat bisa direkomendasikan untuk dikonsumsi harian. Pastikan anda menggunakannya!!!