UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT, SILAHKAN HUBUNGI KAMI. KAMI SIAP MEMBERIKAN PELAYANAN YANG TERBAIK DEMI KEPUASAN ANDA...

KONSERVASI LAHAN, SOLUSI MENUJU KEMANDIRIAN PETANI

KONSERVASI LAHAN
 SOLUSI MENUJU KEMANDIRIAN PETANI
Catatan dari Bodas Kandangserang Pekalongan *)

Oleh Sugeng Hariadi

            Bodas adalah sebuah desa di kecamatan Kandangserang Pekalongan, Jawa tengah. Jarak dari kota kecamatan sekitar 20 Km, terhadap kota sekitar 70 Km. Daerah berbukit ini memiliki jumlah penduduk  625 KK, terdiri 2282 penduduk  dan  1620 DPT. Mereka tidak terkumpul dalam satu area datar tetapi tersebar di puncak dan lereng-lereng perbukitan di lima pedusunan. Jalan yang rusak berat ke daerah ini, nyaris membuat Bodas menjadi daerah kepencil. Tentu dalam aspek pelayanan, termasuk  kepentingan dagang untuk menjual produk lokal dan akses pada kebutuhan pangan menjadi sangat sulit.
            Sebut dalam layanan kesehatan. Memang ada Puskemas pembantu yang dilayani bidan dan perawat. Tetapi tentu untuk kasus ibu melahirkan menjadi tidak sederhana. Medan yang berat tidak memungkinkan mereka menempuh perjalanan dalam kondisi menjelang persalinan. Bila terjadi kasus darurat, tidak kebayang apa yang akan terjadi. Mungkin juga oleh banyaknya tugas, petugas kesehatan tidak selalu tinggal di tempat. Karenanya tidak sedikit kasus persalinan dimana bayi sudah ke luar dari perut ibu belum ada petugas datang. Status persalinan disebut Nakes bila kemudian yang datang dan memotong plasenta adalah tenaga kesehatan. Bila kemudian yang datang dan memotong plasenta adalah dukun disebut persalinan dukun. 
            Saya tinggal di bodas periode september – Novenber 2013, untuk program penyuluhan pertanian terpadu, pada semua desa di kandangserang yang difasilitasi oleh PNPM Mandiri Pedesaan. Peserta aktif pelatihan sekitar 95 orang wanita, meski yang terdaftar resmi 75 orang (5 kelompok). Mereka adalah ibu-ibu, sebagiannya hamil,  yang rata-rata menikah di usia muda (di bawah 17 tahun). Semua peserta memiliki ladang, sawah dan ternak (sapi atau kambing). Yang menarik 80 % dari  peserta, suami mereka bekerja di Jakarta.  Penampilan dan dandanan tidak kurang seperti layaknya ibu-ibu muda di Jakarta. Tetapi jangan kaget, mereka para ibu ini adalah pengarit (pencari rumput) untuk ternak-ternak di Bodas. Malah pekerjaan teknis di sawah ladang,  dikerjakan oleh para ibu-ibu ini.
            Kejadian persalinan tidak didampingi petugas kesehatan  dan perkawinan usia muda oleh ibu-ibu peserta pelatihan adalah dua catatan menarik. Karena ini adalah materi pokok dalam parameter indeks pembangunan manusia. Agak susah menerima kenyataan ini karena terjadi di Pulau Jawa. Tidak kebayang bagaimana daerah yang lebih sulit di pedalaman Kalimantan atau Papua. 80 % suami yang pergi ke Jakarta untuk mencari nafkah, adalah catatan lain. Tentu ini  terkait dengan sawah ladang di Bodas yang produktivitasnya rendah sehingga tidak lagi cukup menyediakan sumber pangan dan pendapatan
Ketika dihubungi Panitia KONAS XI JKLPK (Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen), saya sedang pada posisi di Bodas. Pada acara JKLPK yang sedianya berlangsung di Pontianak (Kalbar) 9 - 13 Oktober 2013, dengan tema DIUTUS UNTUK BERBUAH,  saya  diminta untuk memberi materi seputar “Perubahan Iklim, Kelestarian Lingkungan dan Kedaulatan Pangan”. Buat saya Bodas sangat seksi untuk diskusi soal ini, sedikitnya bisa menjadi prototipe masalah pedesaan bukan saja mewakili Kandangserang dengan 14 desa, boleh jadi malah representasi dari masalah yang terkait dengan kelestarian lingkungan dan kedaulatan pangan di negeri ini.

7 Masalah krusial
Sepanjang ada di Bodas, ada 7 masalah krusial  menjadi catatan. Pertama, penurunan dari tingkat kesuburan sawah.  Pendapatan dari hasil panen di Bodas terus menurun. Seorang pejabat desa menjelaskan, petak sawahnya pada 15 tahun lalu bisa menghasilkan panen padi sampai 30 kandi (sak 50 kg). Hari ini bisa mendapat panen 10 kandi sudah sangat luar biasa. Kualitas hasil panen juga ikut menurun. Rasa nasi dari beras yang dipanen tidak punel dan gurih seperti dulu, melainkan serasa keras dan hambar. Pemakaian obat-obat kimia yang kian digandrungi khususnya untuk pupuk dan pestisida, mungkin menjadi penyebab. Termasuk, tidak disadarinya bahwa hasil panen seperti beras dan sayuran yang dikonsumsi, sebenarnya mengandung residu bahan kimia.
Kedua. Air irigasi sawah yang makin sulit. Konon sepanjang waktu sawah di Bodas bisa ditanami padi. Kebutuhan irigasi di sawah melimpah. Hari ini sawah ladang di Bodas berubah status sebagai “penadah hujan”. Di saat musim kering seperti saat kunjungan saya, ratusan hektar hamparan sawah kering tidak sedikitpun ada tanaman pangan. Air adalah nurani dari kehidupan sawah ladang. Ketiadaan air akan berarti tiadanya kehidupan tanaman. Bahwa Bodas kini masih menyambung hidup, karena 3 (tiga) tahun lalu mendapat bantuan pipanisasi  air dari gunung diatasnya. Setidaknya kebutuhan rutin rumah tangga untuk masak tidak kekurangan. Yang  menarik, ketika sawah ladang kering, kudapan di meja makan untuk kebutuhan minum tersedia air galon yang dibawa dari kota. Artinya mereka tidak mengeluh atau semacam protes, ketersediaan air gunung  bergeser dari kebutuhan  sawah menuju bisnis air minum di kota.
Ketiga. Alih fungsi lahan ke non sawah.  Pertumbuhan penduduk juga berkembangnya kelembagaan sosial membutuhkan fasilitas perumahan. Sebagian areal sawah ladang di Bodas kini berubah menjadi rumah-rumah penduduk. Artinya luasan sawah ladang sebagai sumber pendapatan pertanian kian menyempit. Hasil panen tentu sangat menurun dengan luasan sawah yang kian sempit.
Keempat. Ongkos garap sawah meningkat. Demo-demo buruh di kota yang menuntut kenaikan upah kerja berbuntut juga pada tuntutan kenaikan upah kerja di sawah. Pada sisi lain, bertani identik pemakaian teknologi pertanian yang terkait dengan bibit,  pupuk dan pestisida. Beaya yang dikeluarkan untuk pembelian teknologi ini tidak murah. Apalagi kebutuhan bahan kimia kian hari bertambah banyak. Turunnya kualitas tanah dengan menurunnya hasil panen, tidak sebanding membengkaknya ongkos garap. Margin keuntungan dari budidaya tanam selalu tipis kalau tidak malah merugi. Belum lagi ketika panen harga hasil panen selalu menjadi permainan tengkulak. Petani Bodas meradang kalau harus berurusan dengan hasil panen. Tetapi tidak ada pilihan sawah selalu harus digarap meski keberuntungan sangat tidak berpihak pada mereka.
Kelima. Kebijakan dan politik pangan salah arah. Sulitnya air irigasi, bisa dikembangkan dengan budidaya tanam lain di luar padi. Tetapi menanam padi selalu menjadi primadona. Beras menjadi bahan makanan pokok unggulan. Kalau ada bahan makanan lain hanya sebagai pelengkap. Tidak boleh terjadi sebaliknya. Jika sampai terjadi makanan pokok lain menjadi pilihan, katakan itu makanan olahan dari pohong atau jagung, bukan saja tidak enak dan serasa belum makan, selebihnya mendapat malu dari tetangga karena dianggap miskin. Kebijakan terkait soal ini, secara berkala ada bantuan  dalam tema “raskin”  (beras untuk orang miskin). Biasanya hanya orang tententu yang dianggap miskin yang mendapat jatah raskin. Tetapi pembagian raskin mengundang sentimen sosial yang mendatangkan konflik  antar warga. Yang terjadi kemudian jatah raskin dibagi merata kepada semua warga, peduli mereka kaya atau miskin. Kemudian ini menggeser tema yang semula raskin menjadi “rasgito” (beras dibagi roto). Artinya beras menjadi sangat sensitif di desa. Bantuan dalam bentuk beras tidak disadari merupakan proses ideologisasi pangan, doktrinasi tentang beras sebagai sokoguru pangan. Buntutnya adalah pupusnya kemandirian, terutama terkait dengan usaha diversifikasi pangan.
Keenam. Nilai tukar petani yang rendah. Bak pepatah sudah jatuh ketimpa tangga. Sudah areal tanah yang kian menyempit, kualitas  tanah yg turun dengan  hasil panen yang juga ikut  menurun, ongkos garap yang meningkat, terakhir nilai hasil panen yang terkait harga dibanding komoditas lain sangat rendah. Tentu kebutuhan hidup tidak cukup punya beras. Untuk mendapatkan komuditas lain, harus ditukar dengan menjual beras. Sangat menyakitkan jerih payah tiga bulan merawat tanaman, ketika hasil panen hendak ditukar untuk kebutuhan lain, tidak cukup punya arti karena nilainya sangat rendah.
Ketujuh. Akses pendidikan yang rendah. Banyak warga yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Jika ada sebagian terbesar lulusan sekolah dasar atau sekolah menengah. Sangat sedikit yang nembus sampai sekolah tinggi. Mereka juga sangat jarang mendapat kesempatan promosi untuk sekolah atau pelatihan-pelatihan. Yang menarik paradogs dunia pendidikan terjadi di Bodas. Semakin tinggi strata pendidikan mereka, semakin enggan kembali ke desa semisal menduduki posisi sosial di desa, apalagi kembali menggerakkan cangkul sebagai petani. Mereka lebih memilih bergerak ke kota, menjadi penunggu toko, warung, dan buruh di pabrik.  Bila ada yang tertinggal di desa, mereka adalah yang tertolak dari persaingan hidup di kota. Biasanya luntang-lantung sebagai penganggur di desa tetapi bergaya hidup ke kota-kotaan. Yang menjadi soal, ada kekosongan generasi pada mereka yang harusnya mengerjakan sawah. Sehingga sumber tenaga kerja untuk sawah susah di dapat. Jika pun tersedia, mereka sudah kadaluwarso dengan modalitas pengetahuan yang rendah. Ini merupakan penjelas kenapa produktifitas pertanian rendah.   
Kompleksitas masalah di Bodas cukup krusial. Boleh jadi membuat desa ini ketinggal dalam label daerah yang miskin. Pada posisi ini bisa paham Bodas sangat bergantung dari banyaknya bantuan program (pemerintah) dalam skenario pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan. Tetapi apakah banyaknya bantuan membuat mereka makin berdaya atau terjadi perbaikan dalam strata sosial ekonominya. Sangat susah dijelaskan. Adanya banyak kepentingan, maka bantuan-bantuan itu lebih terkesan kentalnya kepentingan politis atas tema kemiskinan. Tidak terlalu salah menyebut sebatas komoditas politik. Selebihnya sangat bisa dipastikan bahwa 90 % kebutuhan pangan di Bodas didatangkan dari luar (import). Rupanya ini pula yang menjelaskan kenapa 80 % dari para suami peserta diklat harus meninggalkan Bodas untuk bekerja di Jakarta. Ketika tanah tempat berpijak tidak bisa menjanjikan harapan hidup yang layak, maka bergerak ke kota dengan segala resiko adalah pilihan terakhir meski mungkin sangat sulit

Pertanian Terpadu
            Tidak cukup dengan 7 masalah itu. Jika masuk lebih dalam, kelihat ada banyak soal terutama kesalahan dalam cara pengelolaan lahan sawah. Boleh jadi ini cikal-bakal kenapa lahan sawah di Bodas menjadi kritis seperti sekarang. Satu hal bahwa oleh proses sosial dalam tata cara pembagian waris, luasan kepemilikan lahan per rumah tangga petani sangat kecil. Rata-rata di bawah 0,5 Ha. Dengan luasan lahan yang terbatas ini, hasil panen  tidak cukup memberi harapan terpenuhinya kebutuhan ekonomi keluarga. Satu cara yang kemudian dikerjakan, adalah mengelola sawah dengan intensitas tanam yang tinggi. Sawah tidak diberi kesempatan istirahat. Maksudnya supaya mendapat panen yang lebih. Ada yang kemudian luput dari pola ini, yaitu aspek konservasi lahan.
            Konservasi yang dimaksud adalah upaya secara menyeluruh untuk tetap membuat lahan tetap subur. Pengolahan lahan berisiko pada berkurangnya tingkat kesuburan. Begitu petani memetik panen, yang berarti ada unsur hara keluar dari tanah, saat sama  kesuburan tanahnya berkurang. Karena itu sangat penting dipikirkan bagaimana petani bisa panen melimpah, saat sama menjaga supaya kualitas tanahnya tidak menurun.    
            Sayangnya diskusi di kalangan petani belum masuk pada ranah ini. Sejauh ada diskusi, terbatas pada pilihan jenis pupuk, pestisida (kimia) dan  berapa banyak hasil panen yang didapat. Inklud dengan konsep ini, khususnya untuk mempercepat pola tanam, limbah sawah dikorbankan dengan cara membakarnya. Tentu dalam hal ini terjadi bias dalam persepsi tentang panen. Ketika menanam jagung, petani selain mendapat jagung juga tebun jagung, Menanam padi, selain padi mendapat jerami. Dalam semua komuditas, termasuk untuk budidaya ternak, selain hasil panen pokok selalu ada sampah panen. Sejauh ini panen dipahami hanya panen pokoknya, yaitu padi, jagung, kedelai dll. Sisa sampah dari panen, tidak dianggap hasil panen dan malah dianggapnya sampah yang mengganggu pengolahan lahan. Karena dianggap tidak berguna, buntutnya selalu dibakar. Padahal jumlah sampah panen selalu lebih besar sedikitnya 3 kali lipat dari panen pokok. Alhasil jerih payah selama 3 bulan bekerja di sawah hanya memetik ¼ hasil panennya. ¾ yang lain malah dibakar.
            Tidak ada yang bertanya kenapa sampah panen harus dibakar. Kenapa juga tidak ada yang berpikir mestinya pemahaman tentang panen secara menyeluruh kombinasi panen pokok dan panen sisanya. Sejurus dengan ini perlu disampaikan tentang 3 filosofi dasar pertanian, yaitu hukum kekelan energi, rantai makanan dan prinsip biodiversitas (Sugeng Hariadi, 2010). Fenomena alam adalah bentuk perubahan energi. Konsep dasarnya keluaran energi sebanding dengan masukan (input = output). Dalam paraktek, perubahan itu berwujud rantai makanan dalam hubungan produsen – konsumen – bakteri pengurai. Pada prinsip biodiversitas, bakteri pengurai berperan penting dalam mengubah sampah untuk merangsang munculnya kehidupan. Aneka kehidupan saling bersinergi. Karena itu harus dijaga kesinambungan dan tidak boleh saling memusnahkan. Kunci sukses budidaya tanam terletak pada bagaiman menjaga keanekaragaman hayati ini dalam dataran berpikir tentang  ekosistem.
            Filosopi ini mengajarkan panen sebagai keluaran harus diganti masukan dalam jumlah sebanding. Padi, jagung, kedelai sebagai hasil panen yang berati ada produk (hara) yang keluar dari tanah, hendaknya sampah panen dikembalikan dalam tanah sebagai masukan. Untuk pekerjaan ini adalah peran bakteri pengurai (jasad renik) untuk melakukan proses pelapukan. Peran bakteri sangat penting. Proses metabolisme tanah pada aspek fiksika, kimia dan biologis dilakukan bakteri pengurai, penyedia kebutuhan makanan bagi tanaman.
            Petani yang mengambil jalan pintas membakar sampah sawah bertetangan dengan logika ini. Panen boleh di ambil (output) tetapi sampah panen mestinya dikembalikan ke tanah sebagai cara memberi masukan sawah (input). Memberi masukan sawah dari bahan sampah memenuhi logika pemberian pupuk. Bahan organik  yang lapuk oleh peran bakteri pengurai akan merangsang munculnya keanekaragaman hayati yang sangat penting bagi kesinambungan budidaya tanam. Pemilihan cara dengan membakar sampah sawah kemudian mengganti dengan pupuk kimia akan menisbikan peran bakteri pengurai. Apalagi memperkuat pilihan ini dengan berbagai pestisida kimia, akan menyebabkan desintegrasi dari ekosistem tanah. Aspek ini pokok penjelas panen kemudian jatuh. Unsur hara tanah lama kelamaan merosot habis. Kehidupan renik di tanah juga punah oleh pemakaian pestisida kimia. Pemakaian pupuk dan pestisida kima tentu tentu tidak murah. Aspek biaya tinggi ini yang kemudian menjadi beban bagi petani.
            Sejalan dengan ini, hendaknya kembali pada fiolosofi dasar pertanian. Dengan treatmen bakteri pengurai, semua sampah panen hendaknya disisihkan pada sudut  sawah untuk menunggu proses pelapukan. Tetapi bila mau pintar serahkan pada ternak sebagai sumber pakan. Dalam posisi ini ternak memenuhi garis alam membantu perkerjaan yang tidak bisa diselesaikan petani di sawah. Sampah panen yang hari ini dimakan ternak, esok hari sudah keluar berupa kotoran ternak dan kencing. Pastikan merawat kotoran dan kencing, melalui treatmen bakteri pengurai bisa diubah menjadi kompos dan pupuk organik cair (POC).  Bila mau lebih pintar, pembuatan pupuk organik cair bisa diperkjaya dengan bahan-bahan pestisida nabati seperti buah maja, kecubung, akar toba, brotowali dll, maka akan didapat produk POC Pesnab berbasis urin.
            Menjadi catatan bahwa budidaya ternak tidak beda dengan budidaya tanaman. Tidak ada untung-untungnya bila hanya berpikir panen ternaknya. Keuntungan paling seignifikan bila petani bisa mengelola kotoran ternak dan kencing. Keuntungan riilnya bila kotoran dan kencing itu diberikan ke sawah sebagai pupuk dan pestisida. Petani bisa panen dari sawah secara  melimpah dengan biaya murah. Kotoran ternak dan kencingnya juga bisa diubah menjadi produk bio gas. Slurry sebagai sampah bio gas tentu harus dipikirkan sebagai pupuk. Lebih pintar lagi bila kotoran ternak jangan keburu dibawa ke sawah. Belokkan terlebih dahulu untuk budidaya cacing. Pendapatan petani meningkat meningkat bila panen cacing. Cascing (kotoran bekas cacing) sebagai produk sampah baru boleh di bawa ke sawah. Sisa telur cacing akan sangat membantu peranan renik di tanah sawah. Tetapi bila mau lebih pintar, bawa cascing belok ke budidaya kolam ikan. Ekosistem kolam ikan akan hidup dan berbeaya murah bila diperkaya dengan penambahan kompos / cascing. Air kolam jangan diganti atau dibuang selama proses produksi ikan.  Ketika panen ikan, maka ikan sebagai panen pokok, air kolam sebagai sampah bisa dialirkan ke sawah sebagai sumber pupuk.
Sinergi di bidang pertanian sebagai mata rantai produksi  tentu sangat menarik. Konsep ini bukan sekadar wacana. Implementasi di lapangan hanya teruji bila dan hanya bila dikembangkan dengan treatmen bakteri pengurai. Pada aspek teknis, ada tingkat keilmuan bagaimana bakteri pengurai dikembangkan untuk kepentingan sawah,  tingkat keilmuan pengembangan bakteri pengurai di kandang, dan tingkat keilmuan treamenta bakteri pengurai di kolam ikan dll (Produk biakan bakteri pengurai ini di di kami ada tersedia MKABio, yaitu sebagai probiotik baik untuk sawah, ternak, kolam ikan dan bahkan untuk kesehatan manusia). Wacana ini yang kemudiam kita kenalkan sebagai konsep pertanian terpadu (lihat bagan siklus pertanian)

Menuju Kemandirian Petani
            Persoalan jadi kian mengerucut. Harapan untuk memperbaiki ekonomi petani masih sangat terbuka. Produk pangan bisa dibuat melimpah dan kita bisa berdaulat soal pangan. Ini soal kemauan politik. Filosofi dasar pertanian yang sekilas kita paparkan adalah jawaban ilmiah terhadap soal itu. Terkait dengan ini ada 3 (tiga) hal harus dikerjakan. Pertama, gerakan konservasi lahan pertanian. Kekuatan kesuburan tanah terletak pada peran jasad renik di tanah. Bioremediasi tanah harus jadi gerakan petani. Patikan untuk menghentikan pemakaian produk kimia baik untuk kebutuhan pupuk dan pestisida. Pemakaian produk kimia akan jadi paradoks pengembangan budidaya tanam karena justru mematikan biodiversitas tanah. Kedua. gerakan pertanian organik. Kebutuhan pupuk dan pestisida dipenuhi dengan pengolahan limbah sawah dan kandang, termasuk produk urin di setting menjadi pupuk dan pestisida nabati. Apa pun yang konon adalah organ hidup kembali tanah sebagai masukan organik. Ketiga, pengembangan pertanian terpadu. Persepsi tentang panen bukan panen pokok semata, tetapi harus serentak panen sisanya. Dalam praktek, sampah pada satu sistem pertanian memperkuat hasil panen di sub sestem dibawahnya. 
            Tiga gerakan ini bukan saja bertani dengan beaya murah, mudah, panen melimpah, Ramah lingkungan dan Berkesimbungan (3mRB), tetapi juga menjamin berlakunya paradigma sehat. Perut kita adalah tanah kita. Apa yang berkembang di tanah akan masuk mulut yang akan berkembang di perut. Pastikan membuat produk-produk yang sangat di kenali oleh perut. Produk-produk berbahan kimia akan jadi masalah kalau berkembang di perut. Pastikan berikan pada tanah sesuatu yag dikenali seperti berbagai bahan organik, termasuk pengolahan feses (ternak & manusia) dan urin. Penolakan pola ini dalam bentuk yang kelewat estetis seperti bau dan jijik, adalah pikiran yang ditanamkan melalui proses kapitalisasi di bidang pertanian.
            Jika konsisten pada ini maka produk sisa hasil panen harus dikelola secara produktif. Secara teknis bisa dikembangkan model lingkar petani peternak. Pada konsep ini petani yang punya sampah panen bisa diberikan pada peternak. Saat sama peternak yang punya sampah kandang bisa diberikan pada petani. Sangat ideal bila petani sekaligus peternak. Pertukaran ini harusnya diberikan secara gratis. Belakangan memang muncul komoditas baru dalam soal panen, yaitu petani menjual sampah panen pada  peternak dan sebaliknya. Harap diingat, membuang keluar sisa hasil panen katakan itu dijual, hanya berarti petani kehilangan kesuburan tanah dari metrik unsur hara yang terbuang.
            Ini artinya semua limbah sawah harus diolah. Pilihannya dibuat menjadi pakan ternak atau menjadi kompos. Peranan bakteri pengurai sangat fital, apakah dalam pengembangan pakan ternak atau dalam pembuatan teknologi kompos. Untuk ini memang 2 (dua) hal penting dipikirkan, yaitu pengembangan shoftware dan hardware dibidang pertanian. Yaitu berbagai kultur mikrobiologi untuk sawah, ternak dan kolam ikan. Selain itu, petani harus dilengkapi dengan teknologi tepat guna terkait pencacahan produk hasil panen, untuk pembuatan pakan ternak atau kompos.
            Negeri ini berada dijalur katulistiwa, artinya dilewati panas matahari dengan cukup (12 jam penuh). Kecukupan panas dan curah hujan adalah jaminan berkembang sebagai negeri dengan potensi produk agraris. Sinar matahari adalah sumber energi pertanian dalam konteks proses fotosintesis tanaman. Senyum bisa mengembang bila melihat potensi ini. Kedaulatan pangan tidak harus menjadi isu karena semua potensi sangat dekat dengan kita. Tetapi proses kapitalisasi bergerak lebih cepat dan menyumbat berkembangnya potensi ini. Bahwa kemudian hampir 70 % produk pangan dipenuhi dari import, dengan seabrek masalah yang mengikuti, sebenarnya apa yang salah !!!

*) Naskah disampaikan pada KONAS JLPK XI, di Pontianak Kalbar, 9 -13 Oktober 2013. Tema : Diutus untuk berbuah