UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT, SILAHKAN HUBUNGI KAMI. KAMI SIAP MEMBERIKAN PELAYANAN YANG TERBAIK DEMI KEPUASAN ANDA...

PERAN MIKROORGANISME USUS & TANAH : MENURUNNYA KUALITAS MAKANAN KITA


Oleh Dr. Sugeng Hariadi, S.Pd


     Konon ada ungkapan bijak : “makanlah sayur dan buah untuk mendapat vitamin dan mineral supaya tubuh lebih sehat”. Atau seabrek ungkapan bijak lain yang terkait dengan makanan untuk menopang kebutuhan tubuh. Sayangnya kebenaran dari ungkapan bijak itu hari ini harus di ragukan.
Masalah dasarnya karena pangan ditentukan kualitas tanah, sedang kondisi tanah kita telah berubah. Pertanian menyediakan dasar bagi segala makanan manusia. Kita adalah apa yang kita makan, dan gizi dalam makanan sehari-hari adalah kunci kesehatan kita. Jika kita mau berbicara tentang gizi, maka kita harus mulai dengan membahas pertanian.

     Sejak revolusi industri merasuk pada pengembangan teknologi untuk pertanian (revolusi hijau), pola garap tanah kita tidak lagi alamiah. Kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi pertanian guna mendapat keuntungan ekonomi dengan meningkatnya hasil panen, ditempuh cara–cara yang instan dengan penggunaan pestisida dan pupuk kimia. Sesaat panen memang melimpah, tetapi ini tidak menghitung resiko memburuknya kualitas tanah dengan menurunnya kualitas makanan.

     Pestisida berupa zat kimia seperti insektisida, fungisida dan herbisida yang digunakan untuk membunuh serangga yang makan daun dan buah, membunuh bakteri dan jamur penyebab penyakit tanaman atau membunuh rumput. Pupuk kimia adalah zat-zat yang diperlukan tanaman dan diproduksi lewat proses kimia di pabrik. Nitrogen yang diperlukan daun, posfat yang diperlukan buah dan kalium yang diperlukan akar disatukan dalam pupuk NPK. Kombinasi pestisida dan pupuk kimia ini, yang bisa langsung diserap tanaman, menjanjikan panen yang baik dalam waktu singkat.

     Ketergantungan petani pada pestisida dan pupuk kimia sedemikian parah. Jadi soal, ketergantungan ini menyebabkan rusaknya keseimbangan mineral dalam tanah akibat terlalu banyaknya tiga mineral N, P & K. Lain dari itu, ada sifat tak organiknya pupuk kimia dan pestisida, yang tidak memelihara daya hidup mikroorganisme dalam tanah. Sudah dibahas di depan betapa mikroorganisme dalam tanah merupakan kunci daya hidup tanaman. Sangat mungkin penggunaan pestisida dan pupuk kimia secara besar-besaran merusak seluruh ekosistem tanah.

     Hutan adalah fenomena pertanian yang menarik. Tempatnya di ketinggian gunung tetapi tidak pernah kekurangan air untuk kebutuhan hidup tanaman, termasuk tidak perlu pengolahan tanah, pemberian pupuk dan pestisida. Sesungguhnya alam tidak perlu bantuan manusia untuk menjaga tanah tetap subur. Daun dan ranting yang jatuh ke tanah, diurai oleh mikroorganisme dan cacing tanah, mengubahnya menjadi humus yang cocok untuk tumbuhan. Tanah menjadi subur dan gembur, dengan butiran renggang sehingga bisa dilalui air dan udara, juga bertekstur halus; memiliki banyak kandungan mineral seperti besi, tembaga, seng, mangan, dan seterusnya, tanah menjadi lingkungan ideal tempat mikroorganisme bisa subur. NPK saja tidak bisa membuat struktur tanah seperti itu, dan makanan yang diproduksi dari tanah seperti itu akan mengandung sedikit mineral. Menurut laporan UN Conference on Environment and Development 1992 (Eart Summit), kandungan mineral tanah pertanian di berbagai belahan dunia telah merosost 55-85 % dalam 100 tahun belakangan.

     Buah dan sayur memang bisa diproduksi secara melimpah. Tetapi seringkali kekurangan gizi penting yang dulu mereka kandung. Pupuk organik yang dulu digunakan para leluhur, seperti kotoran hewan, sampah ikan, ampas minyak, dll, merupakan sumber mineral yang kaya dan kalau dicampur dengan tanah menciptakan lingkungan yang ramah bagi mikroorganisme. Tiap pupuk organik merupakan sampah dari pencernaan mahkluk hidup, dan kalau dikembalikan ke tanah sampah itu menjadi makanan mikroorganisme, menyumbang kepada pertumbuhan bahan makanan yang kita makan. Kita bagian dari daur alam, dan makan makanan yang dipupuk organik menyelaraskan kita dengan alam, bukan malah memerangi alam.

     Tanah tempat tumbuh tanaman berfungsi seperti usus. Atau sebaliknya, usus kita adalah tanah bagi kita. Di tanah dan di usus, mikroorganisme yang disebut bakteri tanah atau bakteri usus berperan penting dalam memelihara kesehatan penghuni atau pemiliknya. Penggunaan pupuk kimia dan pestisida berlebihan boleh jadi untuk semenrata meningkatkan panen karena meningkatnya efisiensi kerja. Tetapi pada akhirnya tanah akan gersang dan berubah menjadi lingkungan yang tak cocok untuk pertanian. Sama saja dengan obat. Jika kita minum obat untuk menyembuhkan penyakit, boleh jadi untuk sementara akan mengurangi rasa tidak nyaman, pada saat sama obat juga memusnahkan mikroorganisme bermanfaat dan menyebabkan efek buruk pada “tanah” – usus kita. Bila kebablasan, sakit yang lebih serius akan muncul ketika flora normal usus berubah.

     Salah kaprah kita berpikir bahwa membuat sembuh dari sakit berarti membunuh mikrooragnisme dengan antibiotik dan obat kimia lain. Sejarah pengalaman praktek kedokteran mencatat bahwa mikroorganisme penyebab sakit tidak bisa di bunuh begitu saja. Resistensi dan mutasi genetik justru melahirkan pola mikroorganisme baru yang mengundang munculnya penyakit yang lebih sulit diobati. Celakanya petani berpikir melebihi kapasitas seorang dokter terhadap tanaman. Begitu ada masalah pada pola tanam, selalu dicari pestisida dan pupuk kimia yang poten. Yang terjadi hari ini serangan pengganggu tanaman makin menguat seperti munculnya wereng, sundep, hama tikus dan panen justru makin merosot diikuti dengan menurunnya kualitas makanan.

     Harus kembali dipahami lingkungan tanah berhubungan langsung dengan lingkungan dalam usus, dan kunci kesehatan kita terletak pada mikroorganisme. Karena kurang paham dan mengejar keuntungan jangka pendek, kita telah merusak tanah dan banyak mikroorganisme yang menghuninya. Pencemaran lingkungan sama saja dengan pencemaran terhadap mikroorganisme. Semua mahkluk di dunia saling berhubungan. Selama kita masih tak menghargai rantai kehidupan, kita akan tetap sukar mencegah kerusakan tanah yang menumbuhkan tanaman pangan kita, juga tanah kita sendiri, usus kita. Daya hidup sayuran dan buah serta daya hidup manusia yang memakannya tak pelak lagi akan melemah. Alhasil daya hidup ekosistem pun melemah. 

     Kita telah salah memahami dalam standarisasi pedoman gizi yang didasarkan pada dugaan bahwa semua bayam, misalnya, itu seragam kandungan gizinya. Bergesernya pola tanam sekaligus juga menggeser pola kandungan bahan makanan yang kita makan. Di Jepang, Kementerian Pendidikan, Budaya, Olahraga, Sains, dan Teknologi selalu meneliti perubahan kandungan gizi berbagai hasil panen zaman sekarang dan membandingkannya dengan hasil panen tahun-tahun sebelumnya serta menerbitkan hasilnya dalam Tabel Standart Komposisi Bahan Pangan. Misalnya, jika kita bandingkan kandungan besi dalam bayam, pada tahun 1950 kadarnya 13 mg besi per 100 g bayam, sementara pada tahun 2000 tinggal 2 mg per 100 g. Vitamin C dalam wortel menurun dari 10 mg ke 4 mg, dan dalam kol menurun dari 80 mg ke 41 mg. Penurunan kandungan mineral ditemukan di banyak sayur dan buah.

     Kini kita berharap pada pemerintah, dalam hal ini kementerian pendidikan dan pertanian, atau sudah menjadi tugas mereka, untuk memberi informasi dari hasil riset secara berkala tentang kandungan gizi berbagai tanaman pangan lokal Indonesia. Ini penting untuk membuat rekomendasi pola nutrisi yang kita makan. Atau biar tidak lelah menunggu kapan ini dikerjakan pemerintah kenapa tidak berkomitment kembali kepada pertanian yang berbasis organik. Jangan biarkan jatuh pada pilihan terburuk ketika membiarkan pertanian yang bergantung pada pupuk kimia dan pestisida berlanjut. Ini membuka ruang di mana kita akan bereng-bareng keperosok ke jurang di mana produk makanan yang tidak sehat menyerang tingkat kesehatan kita, karena melemah akan gampang menghuni kamar inap berbagai rumah sakit. Itu artinya jerih payah dari kerja memeras keringat hanya terasa nikmat ketika mendapat cuti sakit.